Mengenai Saya

Foto saya
an independent soul with hypnotic aura

Sabtu, 14 Januari 2012

Berhati-hati..

Memuja hatimu. Menggebu-gebu.
Meletup. Meredah sesaat. Meletup lagi.
Muntah.
Merebahkan hati. 
Bersadar pada tiang kekuataan cinta yang hakiki.
Menyerahkan jiwa untuk kamu sentuh raganya.
Mendambamu hingga gila.

Namun nyatanya cintaku dapat membuatmu besar kepala
Melambung ke angkasa. Menjadi semesta yang dipuja
Hingga kamu lupa untuk membalasnya.
Mungkin memang benar adanya, jika aku perlu belajar.
 Mencintaimu dengan sederhana.


Berhati-hati..


Memuja hatimu. Menggebu-gebu
Meletup. Meredah sesaat. Meletup lagi.
Muntah.
Merebahkan hati. Bersadar pada tiang kekuataan cinta.
Menyerahkan jiwa untuk kamu sentuh raganya.
Namun nyatanya cintaku dapat membuatmu besar kepala
Melambung ke angkasa. Menjadi semesta yang dipuja
Hingga kamu lupa untuk membalasnya.
Mungkin memang benar adanya, jika aku perlu belajar.
 Mencintaimu dengan sederhana.

Sabtu, 07 Januari 2012

Tak ada judulnya

Aku hanya diam dan memandang kumpulan foto-foto yang ada di ponsel bertuliskan Blackberry.
Ada beberapa pose laki-laki berkacamata di sana. Foto-foto tersebut diambil beberapa kali dengan waktu yang berbeda. Wajahnya tersenyum, menggambarkan keceriaan.  Ganteng.

Ini foto saat dia kerja, ini saat dia meeting, saat ia liburan dengan temannya, dan ini saat ia sedang di kamar. Banyak juga ternyata..” ucapku dalam hati.
Lalu sekarang, untuk apa foto-foto itu? Entah.. rasanya ingin ku hapus semua, namun satu yang kutakutkan. Takut kangen.  Ku urungkan dulu niatku itu.


****
Beberapa bulan telah ku lalui dengannya, bisa dikatakan kami dekat walaupun mata tak pernah saling memandang dan kulit tak pernah bersentuhan.

Aneh. Tentu saja, dengan alasan jarak dan kesibukan ia tidak pernah menemuiku. Sekali pun saat aku dan dia berada dalam kota yang sama.

Dulu ia pernah bilang akan menemaniku menonton film animasi mkhluk berwarna biru yang bernama Smurf, ia pernah juga berniat mengajakku makan siang bersama, dan segala macam rencananya yang tak kunjung direalisasikan. Beribu alasan dia kemukakan (tolong jangan bilang padanya jika sebenarnya aku tidak percaya). Di depannya aku pura-pura mengerti walau tanda tanya besar terpampang jelas di kepala. Sering kali aku pun berpura-pura percaya, walau sesekali aku tunjukkan kekesalanku. Bukan karena alasannya tidak masuk akal, namun perempuan dewasa macam aku pasti sangat paham jika selalu ada kata “sempat” dibalik kesibukan jika kita memang benar-benar menginginkannya, bukan?

Sering ia meminta maaf, meyakinkan aku jika kondisi memang tak memungkinkan kita untuk bertemu dan berkata jika nanti ia pasti akan menemuiku. Kata-katanya manis hingga aku percaya lagi.

Mm.. perasaan dulu dia deh yang pengen ketemu aku? Tapi kenapa sekarang aku seperti perempuan kesetanan begini sih?” batinku dalam hati.



Beberapa kali aku ingin memutuskan hubungan yang tak jelas ini. Tapi ketika ingin mencoba, hati kecil berkata “sabar dulu… mungkin saja dia tidak ingin terburu-buru”.  Terlebih lagi kamu pernah berkata begitu. Kamu pernah mengatakan jika kamu ingin menghabiskan waktu denganku agak lama, tak mau terburu-buru sehingga kita perlu mencari waktu luang dimana dua-duanya tidak memiliki janji dengan yang lain.
 Baiklah… aku bersabar lagi.



Beberapa perempuan membuatku cemburu, tak jarang itu membuatku kesal dan mogok bicara padamu. “Aku dan dia hanya sebatas teman, mereka bukan tipeku” begitu katamu. Sedikit curiga, namun aku mencoba percaya (lagi).
Kamu memang pernah menyebutkan beberapa kriteria perempuan idamanmu. Tinggi 165cm, berkulit putih, berambut ikal panjang, dan langsing. Setahuku mereka tidak sesuai dengan kriteria perempuan idamanmu dan yang membuat aku geer ada beberapa point yang mirip denganku, walaupun kamu tak pernah bicara secara pasti jika aku adalah tipemu.


Aku juga pernah  ngambek sama kamu, beberapa kali. Kamu mencoba menjelaskan sambil sesekali merayu dan aku selalu luluh. *Well, terkadang positif thinking dan bodoh itu beda tipis. SERIUS.*


Waktu terus berjalan.. terus berlalu, kita makin dekat. Komunikasi tak terputuskan, dari pagi, siang, malam kita selalu terhubung. Maafkan, aku memang perempuan yang cepat kangen. Ditambah dengan minimnya aktivitas yang aku lakukan saat itu, aku butuh teman.

Aku dan kamu beberapa kali bertengkar kecil, lalu baikan lagi. Sempat hilang kontak, lalu dekat lagi. Semakin vulgar. Hingga beberapa hari kebelakang sikapmu berubah. Tak sehangat dulu, lebih sering diam dan sedikit aneh. Menghilang dan tiba-tiba aku dapati kabar jika kamu ada di luar negri. Gilak!


****
Sekarang aku tahu mengapa kamu sulit untuk bertemu aku? Mengapa aku tidak boleh menyapamu di sosial media? Dan mengapa statusmu skype mu tak kunjung berubah.

Sekarang semuanya terjawab. Masa lalu yang sulit dilupakan membuatmu sulit melangkah. Bibirmu terbata mengungkapkan semua. Mungkin kamu takut aku marah. 

Sejujurnya saat itu aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak marah, tidak sedih dan tidak kecewa. Karena pada dasarnya aku ingin ketemu kamu bukan berharap apa-apa, aku hanya ingin menatapmu dari dekat. Itu saja.

Aku hanya ingin menatap mata bulat yang terkotak dalam frame hitam. Aku hanya ingin mendengar suara kaku yang biasa membangunkan aku untuk shalat malam. Aku hanya ingin melihat senyum yang pernah ku liat di video call. Aku hanya ingin menikmatinya secara NYATA. Itu saja.



Aku diam beberapa saat, mencoba mencerna kata-kata yang terucap dari bibir mungil itu. Ucapku terbata-bata sama sepertimu, rasanya sulit sekali mengeluarkan isi kepala. Aku dan kamu saling menatap lalu tersenyum. Kami sama-sama mengerti arti senyuman itu. Ikhlaskan apa yang kemarin telah terjadi, bukan begitu?


Pikiranku terus berputar, mencoba mengingat-ingat kembali apa yang pernah kita lalui kemarin dan berpuluh-puluh hari yang lalu. Beberapa pertanyaan masih bertebangan di kepala.Tanda tanya besar masih ada. 

Seingatku kamu pernah katakan jika aku harus tahu beberapa hal penting tentangmu, hingga nanti aku yang putuskan. Namun nyatanya kamu datang memaparkan kenyataan dan kamu telah mengambil keputusan sendiri. Ya.. kamu tahu apa yang kamu mau.
Pergi dari aku.

Jumat, 06 Januari 2012

Buta


“Aku tidak bodoh, aku hanya mendadak buta ketika asmara melanda”

Tulisan sore

Dua anak kecil saling bercengkrama..
Si idiot dan si buta…. Anggap saja begitu namanya.
Mereka belarian di hutan..
Memetik bunga.. tertawa
Saling menggoda… 


Mereka berlari lagi..
Mengumpat lalu muncul kembali
Saling memberikan senyuman
Tercebur dalam kolam.. basah bersama


Namun tiba-tiba si idiot pergi…
Ia teringat kelincinya yang telah mati..
Ia berlari dan mengais sisa puing kuburan kelinci


Si buta hanya diam dan mencoba keluar kolam
Mengeringkan bajunya yang basah
Menghangatkan tubuhnya yang tengah kedinginan
Si buta merangkak dan belajar menuntun dirinya untuk berjalan
Melangkah… sendiri.


Si idiot datang
Membawa satu karung rasionalisasi dan satu karung alasan.
Si buta hanya mendengar. Ia tidak tahu apa yang terjadi.
Si buta mulai meraba namun si idiot telah pergi….



Kamuuu….
Jangan berasionalisasi karna aku tidak marah
Jangan menjelaskan apa-apa karna itu tak akan buat aku mengerti
Jangan menjauh karna aku tidak membenci
Sadari saja jika kita pernah bermain drama dalam canda.
Berdua..
Kamu idiot dan aku si buta.

Kamis, 29 Desember 2011

Ibu, sang putri, dan patah hati

Bagaimana ya perasaan ibu saat melihatnya anaknya menangis karna patah hati?


Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul dalam benak saya. Entah bagaimana awalnya, namun saya berpikir jika sebagian besar dari kita terutama anak perempuan pasti pernah menangis. Saya salah satunya, selain membaca dan menulis, kegemaran lain yang sering kali saya lakukan adalah menangis. Terdengar aneh ya? Namun memang begitu lah kenyataanya. 

Bila ada yang bilang jika buah takkan jatuh jauh dari pohonnya maka tidak demikian dengan saya. Jauh berbeda dengan saya, Ibu saya adalah perempuan yang kuat dan berani. Beliau tidak takut kepada orang-orang yang berusaha menjatuhkannya dan menyakiti hatinya, beliau jarang menjatuhkan airmata kecuali ketika ia memang tidak dapat lagi menahan kepiluan hatinya. Beliau dapat segera bangkit dari kesedihan dan tidak mendendam, ia dapat bersikap baik kepada orang yang pernah melukai hatinya. Hebat ya?


Well, sayangnya saya bukanlah ibu saya. Pribadi kami sungguh berbeda. Saya adalah gadis cengeng yang manja dan sangat sensitif perasaannya. Tak jarang saya mengumpat dalam kamar dan menangis sepuasnya, lalu keluar dengan mata kodok dan diam-diam mengambil es batu dari dalam kulkas untuk mengompres mata yang kian bengkak. Ya, ibu tahu. Bahkan ia hafal betul kebiasaan putrinya. Namun ia seolah memberikan saya waktu untuk melakukan hobby saya itu. Memberikan kesempatan putrinya untuk meluapkan emosi kesedihannya. Setelah itu, ibu akan menyelusup masuk ke kamar, membisikan nasihat-nasihat bijak dan memompa semangat sang putri untuk menghadapi semuanya.


Saya ingat kejadian lima tahun lalu, dimana saya mengalami peristiwa luar biasa dalam hidup saya. Patah hati (bukan untuk yang pertama kali) namun ini patah hati yang paling hebat yang pernah saya lalui, saya bukan hanya menangis, namun saya tertidur sepanjang hari dan berharap tidak akan membuka mata lagi. Ironis. Bayangkan.. saya tidur, lalu bangun sebentar, menangis hingga letih lalu tidur lagi. Ibu tahu anaknya sedang patah hati, ibu sangat tahu persis masalah apa yang menimpa putrinya saat itu. Putus cinta. Terdengar sangat unyu sekali namun tak ada yang memungkiri jika masalah cinta memang terkadang dapat membuat kita sedikit gila (setidaknya begitulah yang pernah saya rasakan. DULU.)


Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan ibu saat itu, mungkin ibu sedih, marah, atau bagaimana? Tapi yang saya ingat saat itu ibu pernah memberikan sumpah serapahnya kepada mantan saya. Kira-kira begini “Smoga dia jatuh dari motor… sebel. Enak aja udah buat anak gue nangis”, mendengarnya membuat saya tertawa. Saya yakin itu bukan benar-benar sumpah beneran, itu hanya luapan kekesalan ibu kepada orang yang telah menyakiti hati anaknya dan bagi saya, itu adalah ungkapan rasa sayang ibu yang luar bisa ingin melindungi putrinya. Luar biasa.
Ibu juga tak bosan mengingatkan saya untuk makan karena saat itu mendadak saya kehilangan napsu makan. Bayangkan saya hanya makan dua sendok nasi lalu saya menangis lagi. Bobot saya pun  sempat menyusut hingga mm… mungkin sekitar 8kg.. (gila!!) Oia Ibu juga sempat menyuruh saya berlibur dengan sepupu agar saya dapat melupakan kesedihan saya. Hmmm… kalau dipikir-pikir lagi, kok gue dulu lebay banget yaa? Hehe…


Lain dulu lain sekarang. Siapa bilang? Saya masih sering menangis bahkan di usia saya yang telah berkepala dua (dengan ekor empat dibelakangannya). Masalah cinta masih dapat menggoyangkan hati saya, namun dapat saya pastikan jika hal itu tidak akan menghancurkan bangunan kokoh yang telah saya latih untuk menjadi kuat seperti saat ini. Kini, bangunan kokoh yang bernama hati itu lebih kuat, lebih matang dan dewasa (namun tak perlu juga kamu coba banting untuk memastikan kekuatannya ya! ;) ) Well, sekuat-kuatnya hati saya namun mata tetap menagis juga. Saya heran kenapa ya mata ini gak bisa kompak deh… duhh..

 
Rutinitasnya masih saya seperti dulu, saya menangis diam-diam di dalam kamar, mengendus ke dapur untuk mengambil es batu, mengompres mata lalu tidur. Besoknya ibu hanya tersenyum sambil sedikit menggoda saya “Ada yang lagi patah hati nih”, saya hanya tersenyum lalu berlalu sambil masuk ke dalam kamar. Diam dan menulis. Yess, writing is healing. Setidaknya bagi saya, menulis cukup membantu. Sekarang saya mencoba untuk menikmati kesedihan itu sendiri, mencoba menikmati dinamika emosi kehidupan ini dan mengambil pejaralan dari sana. Walaupun terkadang saya pun masih membutuhkan ibu untuk sekedar diskusi dan genjotan semangat. 


Menjadi dewasa bukan berarti saya berubah seperti ibu, menjadi sosok tegar luar biasa yang ditempa banyak kesedihan sejak dulu namun dapat terus berdiri gagah dan tersenyum. Tapi saya belajar dari ibu, bahwa segala di dunia ini memang harus dilalui, mungkin dengan tetesan air mata, mungkin dengan senyuman atau dengan hati yang terporak-poranda karna cinta. Saya butuh waktu beberapa jam dulu untuk menetralisir kegetiran hati dan menata emosi agar lebih stabil. Caranya? ya salah satunya dengan menangis atau terkadang mengadu pada ibu. Setelah saya sadari, nasihat ibu banyak benarnya. Ya kan? 


Yaah ibu berpengaruh besar dalam hidup saya, ibu mendidik saya hingga seperti ini dan pompaan semangat dari beliau lumayan dapat membuat saya jadi gak begitu galau. Setidaknya saya gak suka nulis-nulis status twitter yang sedih menggila seperti kalian lah ya hehehehe…


Pikiran saya pun melayang pada masa depan, beberapa tahun lagi saya akan menjadi ibu dan akan mengalami hal yang sama dengan ibu saya. Entah nanti anak saya laki-laki atau perempuan,  namun sempat terlintas dalam pikiran saya, semoga anak saya laki-laki saja karena kalau saya memiliki perempuan, saya takut jika ia menangis karna patah hati lalu ia mengadu pada saya, nanti kita akan menangis bersama hehehe… Cape dehh…

Rabu, 28 Desember 2011

Bunga Mawar Fushia

Nona.nicii

New Year Sale :D


@bookstore


surrender to strawberry milkshake
dating with blackberry :D

Chilli sauce, me, or chocolate milshake? You choose! :P